The Hu: Invasi Folk Mongolia April 26, 2021 – Posted in: Kata Warga – Tags:

“Kalau dulu orang-orang Eropa berhamburan tatkala melihat pasukan Mongol di kejauhan, kini yang terjadi sebaliknya, kedatangan orang-orang Mongol justru disambut sorak gembira,” ujar seseorang di kolom komentar sebuah video di YouTube. Komentar-komentar lainnya pada kolom video yang sama kebanyakan bernada serupa—mereka menyambut positif kedatangan Mongolian overlords.

Apa kau ingat ketika Mongolia menginvasi sebagian besar daratan Eurasia? Aku juga tidak. Namun, kita menjadi saksi ketika mereka menginvasi dunia saat ini, bukan melalui pasukan ganas pimpinan Genghis Khan, melainkan empat pria yang menggabungkan musik tradisional Mongolia dengan langgam heavy metal: The HU.

Ini adalah kisah tentang kemasyhuran.

 

Peleburan folk dan metal

Hal pertama yang terlintas ketika mendengarkan The Hu barangkali adalah penerapan teknik throat singing dalam lagu-lagu mereka. Meski dikategorikan secara teknis ke dalam Tuvan throat singing yang menirukan bebunyian alam sekitar, The Hu memilih menyebutnya Mongolian throat singing, bedanya, nada yang dicapai lebih tinggi.

Sebelum The Hu singgah di rekomendasi Youtube (akhirnya algoritma YouTube memberi hal bermanfaat) kamu mungkin sudah lebih dulu terpapar aksi throat singing khas folk Mongolia. Entah itu Huun-Huur-Tu dan Batzorig Vaanchig yang telah mendapat jutaan views di YouTube, atau video acak musik-musik Mongolia yang memberi kesehatan atau keindahan—atau keduanya—untuk menemani malam-malam tanpa lelapmu. Kau pun mungkin pernah terpapar lagu-lagu Mongolian Folk Metal yang bercerita tentang kuda perang dari Tengger Cavalry. Pada malam ganjil lain, kau juga mungkin sudah mendengarkan Sound of the Raging Steppe, sebuah kompilasi band-band Mongolian/Kazakhstani metal yang dikurasi mendiang Nature G.

Di ranah musik keras dan/atau eksperimental internasional, beberapa aksi musik dengan semangat pagan/folk ikut terbit pada dekade lalu. Heilung seolah turun dari pegunungan-pegunungan berpucuk runcing di utara Eropa untuk menjadi fenomena di YouTube. Dari nusantara, Senyawa menawarkan peradaban baru-tapi-lama ikut menggempur panggung-panggung musik eksperimental dunia untuk beberapa waktu. Dan dari belahan bumi bagian selatan, Alien Weaponry menyapa melalui penggabungan warcry orang-orang Maori dengan groove/thrash metal.

Peleburan musik rakyat dengan rock atau metal tentu bukan baru terjadi belakangan. Jika ditarik lebih jauh soal menyatunya musik rakyat dengan musik barat, Bob Dylan bisa diseret ke sini, bahkan para komposer klasik macam Wolfgang Amadeus Mozart dan Béla Bartók telah lebih dulu melakukannya pada era masing-masing. Pada dekade 90-an, band-band dari utara dan barat Eropa seperti Primordial, Ensiferum, dan Korpiklaani mulai memasukkan unsur-unsur musik dan kisah rakyat ke dalam heavy metal. Ada pula Skyclad, band asal Inggris yang disebut-sebut telah memainkan folk metal ketika orang-orang baru sekadar mempertimbangkannya sebagai gagasan. Orang-orang Timur pun bereaksi: Tang Dynasty, Orphaned Land, hingga Chthonic kemudian lahir sebagai aksi metal dengan karakteristik daerah masing-masing. Walaupun folk metal awal tampak berkaitan erat dengan area geografis tertentu, pada akhirnya ia milik semua orang dari berbagai pojokan dunia yang mengimaninya.

Jelaslah, apa yang dilakukan The Hu tidak benar-benar baru. Mereka bahkan bukan band pertama yang dieja dengan ‘dê-hu’. *Drum rolls* in Keith Moon. Lantas, kenapa kedatangan orang-orang Mongol ini dirayakan sedemikian rupa, tak hanya di kalangan musik keras, tapi juga di ranah musik arus utama?

Dari pengakuan para personilnya, The Hu terbentuk secara otomatis. Ketika hendak membentuk band ini, mereka sudah tahu siapa saja yang memiliki gairah selaras untuk memainkan gaya musik yang kelak mereka namakan Hunnu Rock ini. Dalam istilah paling purba, mereka bilang musik yang mereka buat berasal dari hati, dan itu dengan mudahnya menyentuh siapa pun. Selain terdengar merendah, jawaban semacam itu tentu bisa keluar dari mulut band mana pun. Sangat mungkin ada jawaban lain.

 

Dari hati… dan tenggorokan

Kepiawaian meramu keagungan musik yang terdengar shamanic ini tidak lahir dari ruang kosong, apalagi “dari hati” belaka. Para personil The Hu menempuh pendidikan musik selama belasan tahun dan meraih gelar master untuk urusan performing arts, telah bermain di beberapa band ethnic rock lain, dengan rentang waktu mempelajari throat singing yang variatif mulai dari dua sampai 20 tahun. “Dari hati” saja kini sama sekali terasa tidak cukup.

Di tangan Galbadrakh Tsendbaatar alias Gala, alat musik gesek asal Mongolia bernama Morin Khuur meringkik seperti kuda. Hal ini terjadi setelah ia dan ketiga rekannya yang sedang menjalani kehidupan modern terlempar ke suatu gurun di Mongolia. Nyamjantsan Galsanjamts alias Jaya sedang berada di, barangkali, kedai kopi kekinian ketika ia mendapat panggilan spiritual untuk mengibarkan rambut gondrong lemasnya dan menyanyi seraya mengacung-acungkan tinju dari atas karang. Enkhasaikhan Batjargal alias Enkush terbangun sudah sangat siang saat ia terlempar ke tanah leluhur untuk turut bernyanyi menggunakan tenggorokan dan menggesek Morin Khuur. Sementara, Temuulen Naranbaatar alias Temka sedang khusyuk memainkan gim konsol ketika ia mendapati dirinya berada di atas tebing tepi danau dan mulai menggenjreng Tovshuur-nya. Riff-riff yang ia hasilkan akan dengan gampang dicap sebagai thrash metal bahkan stoner metal jika dimainkan dengan gitar, alih-alih alat musik Mongolia itu. Video musik penanda kedatangan mereka itu, yang berjudul Yuve Yuve Yu dimulai dengan layar selebar mungkin, dan hingga kini telah ditonton lebih dari 39 juta kali di YouTube.

Pertama kali seorang teman merekomendasikan video Yuve Yuve Yu, aku mengernyit. Empat pria yang terlempar dari dunia modern dan mendarat di tanah asing dengan semangat kedaerahan sambil membanggakan kehebatan era kekhanan, bernyanyi dan memainkan instrumen bak konsep klise abadi heavy metal yang paling agung, mengenakan pakaian kulit dan bot dengan estetika tersendiri, dengan kengerian ngeruweh-ruweh bernyanyi dengan latar lanskap adiluhung Mongolia. Rasanya tak ubahnya orang-orang yang menyombongkan kehebatan kekhalifahan, dengan suara yang dua puluh lima kali lebih merdu. Kedua kali menyaksikannya, dengan lebih penuh perhatian, aku sudah terlempar ke sana. Tidak begitu paham, tapi ikut mengacung-acungkan tinju seperti yang dilakukan Jaya.

Video itu diikuti Wolf Totem, single kedua yang mengantarkan mereka ke puncak Billboard, kalau chart ini masih cukup layak diperhitungkan, sebagai aksi musik Mongolia pertama yang sukses mencapainya. Tembang yang liriknya menyerupai gertakan sebelum perang ini seolah merupakan sumber dari segala keberanian di seluruh dunia: geng motor di stepa Mongolia, wajah-wajah mengerut, dan lirik berima yang anthemic. Siap tempur kapan saja.

Kendati menggunakan teknik bernyanyi yang berbeda, lagu-lagu keras tapi catchy a la The Hu yang sanggup membuatmu ingin mempelajari bahasa baru sangat mengingatkan pada band Neue Deutsche Härte asal Jerman, Rammstein. Di lain sisi, hal-hal inilah yang menjadi pembeda antara The Hu dengan aksi-aksi musik Mongolia terdahulu. Throat singing sendiri bisa dibilang sebagai “sesuatu yang metal”, tapi itu saja tidak cukup. Till Lindemann, vokalis Rammstein pernah mengatakan bahwa lantaran mereka menggunakan bahasa yang tidak umum, maka jalan untuk menuju panggung-panggung internasional adalah dengan menulis lirik-lirik sederhana yang dinyanyikan berulang bak jargon yang enak buat diteriakkan oleh orang mana pun, ditambah pola ritmik yang mengundangmu bergerak naluriah, plus kostum spesial dan pastinya, koreografi tertata serta aksi panggung spektakuler. Singkatnya, mencari perhatian khalayak luas dengan hal-hal yang bikin merasa related secara alami. Konsep The Hu sudah memenuhi semua formula tersebut, kecuali poin terakhir. Sejauh ini, mereka tidak (atau belum) menyemburkan api dan memamerkan titit atas panggung.

 

Paspor diplomatik lintas galaksi

The Hu merilis album debut mereka, The Gereg pada 13 September 2019 atau sekitar setahun setelah video klip Yuve Yuve Yu dan Wolf Totem lantang mengabarkan keberadaan mereka. Gereg atau Paiza adalah paspor diplomatik berupa tablet yang dibawa para Mongolian Nobles di masa lampau. The Gereg adalah sinyal penegas kedatangan The Hu yang tak sekadar “ingin meramaikan kancah musik metal”. Mereka siap menjadi besar sejak awal.

Selain lagu-lagu semacam itu, The Hu pun mengisi album pertama mereka dengan tembang-tembang less-metal yang bisa saja dihadirkan oleh pemusik Mongolia lain, semisal Shireg Shireg dan lagu pentutup Song of Women. Lagu terakhir itu mengalun syahdu sekaligus mengantar kau pada satu kesimpulan: album ini perlu terus disetel ulang.

Dalam waktu singkat, paspor diplomatik tersebut telah membawa The Hu tampil di mana-mana. Festival-festival musik Eropa, Amerika, hingga Yogyakarta. Dari bermain di Google, hingga subway. Mereka bahkan menembus batas antarbintang dengan menuju galaxy far far away dengan Sugaan Essena, tembang yang mengisi gim terbaru franchise ini, Star Wars Jedi: Fallen Order. Menggunakan bahasa alien rekaan para personilnya, lagu ini dinyanyikan dengan penghayatan seolah ditulis dalam bahasa ibu. Kau tak perlu repot-repot menafsirkannya, sesuatu di dalamnya mampu menyemangatimu secara asing–dengan cara The Hu.

Imaji kedigdayaan masa lalu Mongolia (termasuk soal kebesaran Temujin) yang ditampilkan The Hu bisa saja membuat tidak nyaman sebagian orang. Namun, The Hu menegaskan bahwa mereka tidak hanya menyanyikan tentang para leluhur yang telah memberikan banyak hal baik kepada dunia (jalur sutra, servis pos pertama, dsb). Itu semua adalah cara mereka untuk membangunkan semangat pejuang pada setiap orang. Siapa saja.

Sekitar 8 abad silam, tercapai masa damai selepas Kekaisaran Mongolia menaklukkan Eurasia. Orang-orang Barat menamai efek kestabilan itu Pax Mongolica. Pada hari-hari ini, dengan tantangan yang berbeda, ketakutan yang kian beragam yang memaksa kita menjadi budak kekhawatiran, The Hu bisa menjadi sedikit penawar. Entah itu sebagai bagian dari perjuangan untuk berangkat ke kantor sehari-hari, melawan penyakit, kesetaraan di berbagai sisi, hidup berkualitas, atau dunia yang layak. Lagu-lagu mereka bisa menjadi Pax Mongolica kecil untuk siapa pun.

Tidak ada lagu The Hu yang jelek. Tidak ada orang yang bukan penggemar The Hu (yang ada hanya mereka yang belum mendengarkan The Hu). Dan, setidaknya menurut The Hu, tidak ada orang yang bukan pejuang.

Oleh: Benji