Lirik untuk Lagu Pop, Cerita untuk Sapardi April 26, 2021 – Posted in: Pop

Oleh: Sabda Armandio

Saya menyukai puisi-puisi dan pribadi Rivai Apin. Ia melengkapi apa yang tidak diberikan Chairil kepada saya sebagai penulis: pembebasan yang sebenar-benarnya, bukan cuma laku hidup yang serba menentang melainkan keberanian mengakui kekeliruan dan menghadapinya, tidak lari. Tapi, itu belakangan saja. Dulu sekali, saya pernah bertemu dengan penulis lain. Pertemuan kami canggung: ia adalah orang yang kikuk, saya adalah orang yang kikuk, pertemuan dua sikap itu sialnya tidak bekerja seperti plus dikali plus.

Saya tinggal di Hutan Keder. Hutan itu mendapat julukannya dari orang-orang yang tinggal di tepi hutan. Menurut rumor, ada Setan Keder yang menghuni hutan itu. Keder, menurut orang kota artinya takut, tetapi leluhur kami menggunakan kata ‘keder’ untuk menjelaskan perasaan saat dalam kebingungan, merasa tersesat, atau kehilangan arah. Julukan ‘keder’ disematkan kepada setan penghuni hutan itu untuk arti yang kedua. Siapapun yang nekat menerobos hutan akan kebingungan dan, bisa diramal sejak awal bahwa ia tidak akan kembali.

Saat itu, saya memutuskan tinggal di dalamnya, sebab hutan itu menawarkan rasa aman dengan cara-cara yang ganjil. Saya tahu ada beberapa komunitas yang berserak di hutan itu, tetapi mereka bukan manusia. Karena itulah, ketika mengetahui ada manusia lain, saya langsung pasang sikap siaga.

Setelah saya selidiki dengan mengintip-intip, saya tidak menemukan sikap agresif dari gerak-gerik orang itu. Ia cuma jongkok di depan semak mawar, memakai topi dan kaca mata, wajahnya agak pucat, dan sudah tua. Keterangan terakhir kurang penting, tetapi cukup menjelaskan mengapa ia gemar berbicara sendiri. Mungkin ia cuma ahli botani atau kolektor serangga yang tersesat, pikir saya. Atau ia cuma murni kebingungan dan tidak tahu lagi apa yang mesti dilakukan.

“Aku ingin tinggal di hutan yang gerimis,” katanya, saat menyadari kehadiran saya, tanpa mengubah posisi jongkoknya.
“Hutan gerimis?” tanya saya, dengan tidak menunjukkan ketertarikan sama sekali. Gerimis di hutan ini memang jarang terjadi, lebih sering turun kabut, tetapi sekalipun terjadi ia bukanlah fenomena unik atau romantis.

Ia berusaha menarik perhatian saya dengan menunjuk semak-semak mawar yang sedang ia teliti, “Dengar,” katanya, setengah berbisik, saya menjawab sambil setengah pongah apa sih ini orang!

Tentu, dengan nada sinis, saya mengelak. Suara kentut saya akan jauh lebih nyaring. Namun, ia tampak bersungguh-sungguh; terlalu bersungguh-sungguh untuk sekadar memperlihatkan kegilaannya. Saya jadi agak terpengaruh. Saya jongkok dan memejamkan mata, supaya lebih fokus.

“Jangan pejamkan matamu,” katanya, sedikit berseru. Saya kaget. Oke, oke.

Ia menaruh telunjuknya di bibir, lalu menunjuk butir air yang seolah sedang bingung dengan nasibnya: apakah akan jatuh atau diam hingga menguap di sela duri. “Dengarkan,” katanya, “Dengarkan baik-baik.”

Butir air itu merosot sedikit demi sedikit. Pelan sekali, sampai ia tiba di puncak duri lalu turun lagi. Tidak ada apa-apa, tetapi saya merasa sesuatu yang besar sedang terjadi.

“Itulah suara kita,” katanya.

Kita?

Ia kemudian meminta saya memerhatikan kembang-kembang besar yang menggantung di dahan, itu kembang memang cukup mengintimidasi baik secara ukuran, jumlah, mau pun penampilan. Cocok dijadikan titik temu, sebab kau mustahil melewatkan mereka jika lewat. Meski begitu, ya, mereka cuma kembang. Bahkan, jika kau punya alergi, mereka cenderung berbahaya. Kadang jika angin cukup kencang, serbuk sari mereka akan bertebaran mengeroyokmu, bikin kau jadi gatal-gatal atau iritasi atau bikin matamu membengkak. Ia termenung begitu, saya malah asyik memerhatikannya dan mulai berpikir, kalau Setan Keder benar-benar menghuni hutan ini, orang tua inilah setan itu.

“Nanti, aku akan memecah perlahan dan bertebaran,” katanya, “Kau juga.”

Mau tak mau aku jadi membayangkan bagaimana sesuatu mengembang dan mengembang dan mengembang dalam tingkat bingkai detik yang pelan sehingga membuatnya patah-patah, kemudian pecah dan pecah dan pecah menguarkan serbuk yang kebingungan di tengah kabut. Butuh sekian waktu hingga gravitasi benar-benar menarik mereka jatuh.

Pada saat itulah, hutan yang selama ini saya tinggali cuma untuk saya tinggali, segala hal yang menurut saya biasa saja: sekumpulan jin kayu, peri, dan ulat jadi-jadian yang merangkak di dahan ternyata saling menopang satu sama lain: kehidupan. Keindahan yang saya anggap serba artifisial, yang muncul cuma karena kau merasa kesepian, menemukan maknanya lagi. Dan yang lebih penting, di dalam ‘lirik lagu pop’, ada jenis ketakutan yang saya hindari semasa kecil dan tak pernah saya hadapi semasa dewasa, dan tak bisa saya temukan baik dalam Rivai Apin dan Chairil: penerimaan diri dalam bentuk yang akurat dengan pengalaman saya.

jangan pejamkan matamu: aku ingin tinggal di hutan yang

gerimis – pandangmu adalah seru butir air tergelincir
dari duri mawar (begitu nyaring!); swaramu adalah
kertap bulu burung yang gugur (begitu hening!)

aku pun akan memecah pelahan dan bertebaran dalam

hutan; berkilauan serbuk dalam kabut – nafasmu
adalah goyang anggrek hutan yang mengelopak (begitu
tajam!)

aku akan berhamburan dalam grimis dalam seru butir air

dalam kertap bulu burung dalam goyang anggrek –
jangan pejamkan matamu:

(1975)

Selamat jalan, Sapardi Djoko Damono. Terima kasih untuk perkenalan-perkenalan yang kikuk; untuk ruang tafsir yang lebih dari cukup buat dialihwahanakan ke medium selain puisi. Semua kekurangajaran yang saya lakukan terhadap karya-karyamu akan saya simpan selamanya. Suatu hari kita akan ketemu lagi; saat hutan mendadak gaib, dan kita tak perlu memejamkan mata lagi.