COVID-19 di Indonesia

Catatan Edisi

Rizka Raisa Fatimah Ramli // Profil

Silmi Sabila // Profil

Andina Dwifatma // Profil

Benji // Profil

 

M. Nauval Firdaus // Profil

Bhagavad Sambadha // Profil

1 (satu) A4: Rp300.000

Non-fiksi: Rp500.000

Fiksi: Rp300.000

Redaksional, rasio 4:3: Rp200.000

Poster, rasio 4:3: Rp200.000

  1. Kamu bisa mengajukan ide cerita foto berupa sinopsis sepanjang maksimal 1500 karakter
  2. Setelah itu, kamu mengirim sinopsis tersebut dengan medium Google Docs, tanpa foto
  3. Kirim link Google Docs melalui email dengan subjek ‘Ide Cerita Foto’
  4. Pada badan email, ceritakan sedikit tentang dirimu
  5. Alamat email: apaan.co@gmail.com
  6. Kami akan menghubungi ide terpilih, setelah itu lanjut ke tahap diskusi
  7. Jika ide kamu belum terpilih, kami juga akan mengabari

1 (satu) ide cerita foto yang terpilih mendapatkan biaya sebesar untuk pengerjaan foto dan esai Rp500.000-Rp750.000

Harga yang tercantum merupakan wujud apresiasi yang akan mengalami perubahan nilai seiring bertambahnya biaya patungan dari pembaca. Semakin banyak yang patungan, kreator akan mendapat bayaran yang semakakin ideal.

Misal, menurut kami, untuk satu tulisan nonfiksi idealnya penulis mendapat bayaran sebesar Rp1.000.000 per tulisan, dan satu panel komik berkisar Rp80.000-Rp100.000.

Pencarian angka ideal ini disesuaikan dengan kesepakatan antara kreator dengan kemampuan redaksi Patron Zine, dengan harapan, baik pencipta dan pembaca sama-sama dapat menghargai hasil kerja keras. 

Kami juga menampilkan jumlah patungan yang terkumpul setiap ada pertambahan.

Biaya Produksi Volume 1: Isolasi

Komik           Rp600.000

Ilustrasi       Rp200.000

Fiksi           Rp300.000

Nonfiksi        Rp300.000

             _____________+

Total         Rp1.400.000

Tata Bersaudara

🎨 Rizka Raisa Fatimah Ramli
📝 Sabda Armandio

Dokter Amin

Oleh: Andina Dwifatma

Hari ini RT kami heboh. Beredar informasi di grup WhatsApp (WA) bahwa dokter Amin terserang corona. "Celaka betul," kata salah seorang tetangga. "Anakku belum lama ini diperiksanya."



Dokter Amin spesialis anak dan pasiennya bejibun. Konon orangnya baik dan cakap (kami belum pernah ketemu karena anakku lebih anteng diperiksa neneknya sendiri), dan asal kau tahu, menemukan dokter anak yang cocok itu lebih sulit dari mencari jodoh. Kadang anak kita suka dengan dokternya, tapi obat yang dikasih sama sekali tidak manjur, atau kebalikannya, dokter itu cakap luar biasa tapi anak baru melihat ujung jas putihnya saja sudah menjerit-jerit.

Bisa dibayangkan betapa waswasnya kami ketika mendengar kabar nahas itu. Di luar, hujan turun dengan derasnya dan angin menampar-nampar. Cuaca yang cocok untuk menangis.

Para ibu segera berbagi kecemasan. Karena sedang social distancing, kami pun cemruwit di grup WA RT 003/RW 015.

ODP adalah Orang Dalam Pemantauan (ODP). Sebaiknya jangan disebut ODC (Orang Dalam Catatan) apalagi OCD.

"Bu RT, saya baru dari dokter Amin tiga hari lalu soalnya Zidan sakit. Sekarang saya kok jadi ngerasa demam, tenggorokan enggak enak, dada agak sesak. Gimana dong???" (tanda tanya tiga)

"Bu, waktu periksa apa Ibu salaman sama dokter Amin?" "Seingat saya sih enggak, tapi kan Zidan diperiksa dia." "Lha apa tidak cuci tangan?" "Lupa."

Seorang tetangga meneruskan gambar Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) tempat dokter Amin berpraktik, disegel dengan pita kuning-hitam. Karena diambil dari jarak jauh, plang nama RSIA tampak samar.

"Siaga 1 ini ibu-ibu. Daerah kita menjadi zona merah. Seluruh dokter dan suster RSIA itu dipulangkan." (emot kaget-emot kaget-emot kaget)

Beberapa ibu terlihat is typing...

"Allahu akbar, mari kita minta perlindungan Allah SWT ibu-ibu sekalian, karena Allah lah sebaik-baik penolong.." (dilanjutkan dengan mengirim ayat-ayat). "Apa tidak sebaiknya kita lapor ke polsek depan, ibu-ibu? Biar ada yang mengkoordinasi kalau kita harus tes corona." "Lho kok jadi ke polisi? Ke rumah sakit rujukan saja dulu." "Tapi dengar-dengar antrenya lama. Kemarin ada yang 5 jam enggak diapa-apain, ujung-ujungnya koit." "Ya Allah, istighfar, Bu.." "Astaghfirullohaladziiiiim."

Aku memutuskan terjun ke arena peperangan. Kataku, "Ada yang punya nomornya dokter Amin tidak? Sebaiknya kita tanya dulu apa benar beliau kena corona."

Grup lantas menjadi #sejenakhening seperti pengikut Adjie Santosoputro.

Sepuluh menit kemudian tetanggaku menyahut, barusan dokter Amin mengirim WA: yang bersangkutan tidak kena corona, melainkan dirawat karena kecapekan saja. Karena dokter-dokter spesialis anak yang lain pada takut terinfeksi, mereka libur praktik. Dokter Amin pun kewalahan karena menerima limpahan pasien yang begitu banyak.

Lantas bagaimana dengan RSIA yang diisolasi?

"Itu foto klinik di Bojonggede," jelas dokter Amin. "Disegel karena menjadi tempat aborsi. Kasus lama itu, sudah lima tahun lalu. Warna kliniknya memang mirip dengan rumah sakit kami."

Kami mengangguk-angguk di rumah masing-masing, dan kubayangkan, di ujung sana, dokter Amin mengembuskan napas lelah.



M. Nauval Firdaus
INVASI MONGOLIA JILID II

Oleh: Benji

“Kalau dulu orang-orang Eropa berhamburan tatkala melihat pasukan Mongol di kejauhan, kini yang terjadi sebaliknya, kedatangan orang-orang Mongol justru disambut sorak gembira,” ujar seseorang di kolom komentar sebuah video di YouTube. Komentar-komentar lainnya pada kolom video yang sama kebanyakan bernada serupa—mereka menyambut positif kedatangan Mongolian overlords.


Apa kau ingat ketika Mongolia menginvasi sebagian besar daratan Eurasia? Aku juga tidak. Namun, kita menjadi saksi ketika mereka menginvasi dunia saat ini, bukan melalui pasukan ganas pimpinan Genghis Khan, melainkan empat pria yang menggabungkan musik tradisional Mongolia dengan langgam heavy metal: The HU.

Ini adalah kisah tentang kemasyhuran.

Peleburan folk dan metal

Hal pertama yang terlintas ketika mendengarkan The Hu barangkali adalah penerapan teknik throat singing dalam lagu-lagu mereka. Meski dikategorikan secara teknis ke dalam Tuvan throat singing yang menirukan bebunyian alam sekitar, The Hu memilih menyebutnya Mongolian throat singing, bedanya, nada yang dicapai lebih tinggi.

Sebelum The Hu singgah di rekomendasi Youtube (akhirnya algoritma YouTube memberi hal bermanfaat) kamu mungkin sudah lebih dulu terpapar aksi throat singing khas folk Mongolia. Entah itu Huun-Huur-Tu dan Batzorig Vaanchig yang telah mendapat jutaan views di YouTube, atau video acak musik-musik Mongolia yang memberi kesehatan atau keindahan—atau keduanya—untuk menemani malam-malam tanpa lelapmu. Kau pun mungkin pernah terpapar lagu-lagu Mongolian Folk Metal yang bercerita tentang kuda perang dari Tengger Cavalry. Pada malam ganjil lain, kau juga mungkin sudah mendengarkan Sound of the Raging Steppe, sebuah kompilasi band-band Mongolian/Kazakhstani metal yang dikurasi mendiang Nature G.

Di ranah musik keras dan/atau eksperimental internasional, beberapa aksi musik dengan semangat pagan/folk ikut terbit pada dekade lalu. Heilung seolah turun dari pegunungan-pegunungan berpucuk runcing di utara Eropa untuk menjadi fenomena di YouTube. Dari nusantara, Senyawa menawarkan peradaban baru-tapi-lama ikut menggempur panggung-panggung musik eksperimental dunia untuk beberapa waktu. Dan dari belahan bumi bagian selatan, Alien Weaponry menyapa melalui penggabungan warcry orang-orang Maori dengan groove/thrash metal.

Peleburan musik rakyat dengan rock atau metal tentu bukan baru terjadi belakangan. Jika ditarik lebih jauh soal menyatunya musik rakyat dengan musik barat, Bob Dylan bisa diseret ke sini, bahkan para komposer klasik macam Wolfgang Amadeus Mozart dan Béla Bartók telah lebih dulu melakukannya pada era masing-masing. Pada dekade 90-an, band-band dari utara dan barat Eropa seperti Primordial, Ensiferum, dan Korpiklaani mulai memasukkan unsur-unsur musik dan kisah rakyat ke dalam heavy metal. Ada pula Skyclad, band asal Inggris yang disebut-sebut telah memainkan folk metal ketika orang-orang baru sekadar mempertimbangkannya sebagai gagasan. Orang-orang Timur pun bereaksi: Tang Dynasty, Orphaned Land, hingga Chthonic kemudian lahir sebagai aksi metal dengan karakteristik daerah masing-masing. Walaupun folk metal awal tampak berkaitan erat dengan area geografis tertentu, pada akhirnya ia milik semua orang dari berbagai pojokan dunia yang mengimaninya.

Jelaslah, apa yang dilakukan The Hu tidak benar-benar baru. Mereka bahkan bukan band pertama yang dieja dengan 'dê-hu'. *Drum rolls* in Keith Moon. Lantas, kenapa kedatangan orang-orang Mongol ini dirayakan sedemikian rupa, tak hanya di kalangan musik keras, tapi juga di ranah musik arus utama?

Dari pengakuan para personilnya, The Hu terbentuk secara otomatis. Ketika hendak membentuk band ini, mereka sudah tahu siapa saja yang memiliki gairah selaras untuk memainkan gaya musik yang kelak mereka namakan Hunnu Rock ini. Dalam istilah paling purba, mereka bilang musik yang mereka buat berasal dari hati, dan itu dengan mudahnya menyentuh siapa pun. Selain terdengar merendah, jawaban semacam itu tentu bisa keluar dari mulut band mana pun. Sangat mungkin ada jawaban lain.


Dari hati... dan tenggorokan

Kepiawaian meramu keagungan musik yang terdengar shamanic ini tidak lahir dari ruang kosong, apalagi "dari hati" belaka. Para personil The Hu menempuh pendidikan musik selama belasan tahun dan meraih gelar master untuk urusan performing arts, telah bermain di beberapa band ethnic rock lain, dengan rentang waktu mempelajari throat singing yang variatif mulai dari dua sampai 20 tahun. “Dari hati” saja kini sama sekali terasa tidak cukup.

Di tangan Galbadrakh Tsendbaatar alias Gala, alat musik gesek asal Mongolia bernama Morin Khuur meringkik seperti kuda. Hal ini terjadi setelah ia dan ketiga rekannya yang sedang menjalani kehidupan modern terlempar ke suatu gurun di Mongolia. Nyamjantsan Galsanjamts alias Jaya sedang berada di, barangkali, kedai kopi kekinian ketika ia mendapat panggilan spiritual untuk mengibarkan rambut gondrong lemasnya dan menyanyi seraya mengacung-acungkan tinju dari atas karang. Enkhasaikhan Batjargal alias Enkush terbangun sudah sangat siang saat ia terlempar ke tanah leluhur untuk turut bernyanyi menggunakan tenggorokan dan menggesek Morin Khuur. Sementara, Temuulen Naranbaatar alias Temka sedang khusyuk memainkan gim konsol ketika ia mendapati dirinya berada di atas tebing tepi danau dan mulai menggenjreng Tovshuur-nya. Riff-riff yang ia hasilkan akan dengan gampang dicap sebagai thrash metal bahkan stoner metal jika dimainkan dengan gitar, alih-alih alat musik Mongolia itu. Video musik penanda kedatangan mereka itu, yang berjudul Yuve Yuve Yu dimulai dengan layar selebar mungkin, dan hingga kini telah ditonton lebih dari 39 juta kali di YouTube.

Pertama kali seorang teman merekomendasikan video Yuve Yuve Yu, aku mengernyit. Empat pria yang terlempar dari dunia modern dan mendarat di tanah asing dengan semangat kedaerahan sambil membanggakan kehebatan era kekhanan, bernyanyi dan memainkan instrumen bak konsep klise abadi heavy metal yang paling agung, mengenakan pakaian kulit dan bot dengan estetika tersendiri, dengan kengerian ngeruweh-ruweh bernyanyi dengan latar lanskap adiluhung Mongolia. Rasanya tak ubahnya orang-orang yang menyombongkan kehebatan kekhalifahan, dengan suara yang dua puluh lima kali lebih merdu. Kedua kali menyaksikannya, dengan lebih penuh perhatian, aku sudah terlempar ke sana. Tidak begitu paham, tapi ikut mengacung-acungkan tinju seperti yang dilakukan Jaya.

Video itu diikuti Wolf Totem, single kedua yang mengantarkan mereka ke puncak Billboard, kalau chart ini masih cukup layak diperhitungkan, sebagai aksi musik Mongolia pertama yang sukses mencapainya. Tembang yang liriknya menyerupai gertakan sebelum perang ini seolah merupakan sumber dari segala keberanian di seluruh dunia: geng motor di stepa Mongolia, wajah-wajah mengerut, dan lirik berima yang anthemic. Siap tempur kapan saja.

Kendati menggunakan teknik bernyanyi yang berbeda, lagu-lagu keras tapi catchy a la The Hu yang sanggup membuatmu ingin mempelajari bahasa baru sangat mengingatkan pada band Neue Deutsche Härte asal Jerman, Rammstein. Di lain sisi, hal-hal inilah yang menjadi pembeda antara The Hu dengan aksi-aksi musik Mongolia terdahulu. Throat singing sendiri bisa dibilang sebagai “sesuatu yang metal”, tapi itu saja tidak cukup. Till Lindemann, vokalis Rammstein pernah mengatakan bahwa lantaran mereka menggunakan bahasa yang tidak umum, maka jalan untuk menuju panggung-panggung internasional adalah dengan menulis lirik-lirik sederhana yang dinyanyikan berulang bak jargon yang enak buat diteriakkan oleh orang mana pun, ditambah pola ritmik yang mengundangmu bergerak naluriah, plus kostum spesial dan pastinya, koreografi tertata serta aksi panggung spektakuler. Singkatnya, mencari perhatian khalayak luas dengan hal-hal yang bikin merasa related secara alami. Konsep The Hu sudah memenuhi semua formula tersebut, kecuali poin terakhir. Sejauh ini, mereka tidak (atau belum) menyemburkan api dan memamerkan titit atas panggung.

Paspor diplomatik lintas galaksi

The Hu merilis album debut mereka, The Gereg pada 13 September 2019 atau sekitar setahun setelah video klip Yuve Yuve Yu dan Wolf Totem lantang mengabarkan keberadaan mereka. Gereg atau Paiza adalah paspor diplomatik berupa tablet yang dibawa para Mongolian Nobles di masa lampau. The Gereg adalah sinyal penegas kedatangan The Hu yang tak sekadar “ingin meramaikan kancah musik metal”. Mereka siap menjadi besar sejak awal.

Selain lagu-lagu semacam itu, The Hu pun mengisi album pertama mereka dengan tembang-tembang less-metal yang bisa saja dihadirkan oleh pemusik Mongolia lain, semisal Shireg Shireg dan lagu pentutup Song of Women. Lagu terakhir itu mengalun syahdu sekaligus mengantar kau pada satu kesimpulan: album ini perlu terus disetel ulang.

Dalam waktu singkat, paspor diplomatik tersebut telah membawa The Hu tampil di mana-mana. Festival-festival musik Eropa, Amerika, hingga Yogyakarta. Dari bermain di Google, hingga subway. Mereka bahkan menembus batas antarbintang dengan menuju galaxy far far away dengan Sugaan Essena, tembang yang mengisi gim terbaru franchise ini, Star Wars Jedi: Fallen Order. Menggunakan bahasa alien rekaan para personilnya, lagu ini dinyanyikan dengan penghayatan seolah ditulis dalam bahasa ibu. Kau tak perlu repot-repot menafsirkannya, sesuatu di dalamnya mampu menyemangatimu secara asing--dengan cara The Hu.

Imaji kedigdayaan masa lalu Mongolia (termasuk soal kebesaran Temujin) yang ditampilkan The Hu bisa saja membuat tidak nyaman sebagian orang. Namun, The Hu menegaskan bahwa mereka tidak hanya menyanyikan tentang para leluhur yang telah memberikan banyak hal baik kepada dunia (jalur sutra, servis pos pertama, dsb). Itu semua adalah cara mereka untuk membangunkan semangat pejuang pada setiap orang. Siapa saja.

Sekitar 8 abad silam, tercapai masa damai selepas Kekaisaran Mongolia menaklukkan Eurasia. Orang-orang Barat menamai efek kestabilan itu Pax Mongolica. Pada hari-hari ini, dengan tantangan yang berbeda, ketakutan yang kian beragam yang memaksa kita menjadi budak kekhawatiran, The Hu bisa menjadi sedikit penawar. Entah itu sebagai bagian dari perjuangan untuk berangkat ke kantor sehari-hari, melawan penyakit, kesetaraan di berbagai sisi, hidup berkualitas, atau dunia yang layak. Lagu-lagu mereka bisa menjadi Pax Mongolica kecil untuk siapa pun.

Tidak ada lagu The Hu yang jelek. Tidak ada orang yang bukan penggemar The Hu (yang ada hanya mereka yang belum mendengarkan The Hu). Dan, setidaknya menurut The Hu, tidak ada orang yang bukan pejuang.


Ekspos

🎨 Silmi Sabila
📝 Sabda Armandio

Petualangan Laika

Petualangan Laika

Petualangan Laika

Petualangan Laika

Petualangan Laika



Petualangan Laika

Petualangan Laika

Petualangan Laika
Semacam usaha bertahan dalam kamar

Cerpen seminal Seno Gumira Ajidarma berjudul Manusia Kamar dimulai dengan satu pertanyaan: Bisakah manusia hidup tanpa manusia lain di dalam ekosistem bernama masyarakat? Jawabannya tentu tidak, tapi cerpen itu setidaknya bisa sedikit menggambarkan usaha maksimal seseorang untuk menolak hidup dalam aturan komunal. Di masa Coronavirus seperti saat ini, menjadi manusia kamar barangkali bukan pilihan buruk.


Sebelum Seno Gumira, Xavier de Maistre pada 1794 di bagian utara Italia dan selatan Prancis, menulis buku Petualangan di Sekitar Kamar. Buku ini merupakan manuskrip yang ia tulis setelah ditahan selama 42 hari karena melakukan duel ilegal. Buku itu berisi pengamatan Xavier yang kemudian dicampur dengan imajinasi dan menghasilkan catatan ilusif tentang petualangan di berbagai sudut kamarnya.

42 hari di kamar bagi beberapa orang memang sangat menyiksa, terutama jika kamu adalah mahluk sosial yang tak betah berdiam diri dan perlu bertemu orang untuk bercerita atau sekedar bertatap muka. Bayangkan kamu bangun pada hari ketujuh dalam kurungan rumah, dengan kepala penuh pertanyaan konyol seperti bagaimana cara membuat acar dengan seikat pare dan dua butir bawang. Usaha sia-sia itu muncul dari level kebosanan yang tak tertahankan.

Setelah beberapa hari tertahan di kamar, di rumah, di ruangan yang itu-itu aja, kita baru merasakan betapa mahalnya kemerdekaan bergerak. Kebosanan dan kesepian lebih membunuh daripada ormas di Jakarta. Untuk itu, sekadar saran untuk mengatasi kebosanan di kamar, kita bisa melakukan beberapa alternatif kegiatan seperti yang telah dinubuatkan Seno dalam Manusia Kamar atau Xavier de Maistre di Petualangan di Sekitar Kamar.

Hal pertama yang kau lakukan saat bangun tidur adalah menganggap kau berada di tempat yang tak kau kenali. Empat sisi kamar dan atap plafon putih di atas kepalamu adalah pemandangan yang tak pernah kau lihat sebelumnya. Bernapaslah seperti biasa, setelah itu mengumpulkan segala ingatan dari malam sebelumnya, dan jika kau cukup berani untuk beranjak dari kasur, persiapkan dirimu karena perjalanan berikutnya tak akan mudah--dan mungkin akan sedikit lebih kacau.

Langkah pertama memang selalu mengerikan. Kau akan merasakan ubin yang dingin dan mungkin saja bantal atau guling jika kau adalah orang yang rusuh saat tidur. Saat berdiri, sempatkan untuk memeriksa seluruh anggota tubuhmu: kepala masih di tempat seharusnya, kaki, tangan, lidah, alis, dan apakah matamu masih sedemikian berat untuk dibuka? Kalau iya, mungkin kau bisa mengatasinya dengan mengucek kedua matamu. Setelah selesai mengucek mata, kau akan benar-benar melihat tempat lain.

Berhari-hari mengerjakan tugas dan proyek bikin kau kurang tidur, semalam setelah selesai mengirimkan laporan kau memutuskan untuk minum, tidak banyak, hanya dua gelas, tapi campuran alkohol cukup membuat santai, dan tanpa sadar dalam tidurmu, kau bergerak dan melempar benda-benda yang membuatmu tak nyaman tidur. Selain bantal ada sweater, selimut, kaus kaki sebelah kanan, dan dompet.

Pelan-pelan kesadaranmu muncul, mungkin, karena minum air putih membuatmu segar, tapi meja tempat gelas berisi air minum itu adalah jagat yang lain. Berminggu-minggu lalu kau berjanji pada diri sendiri untuk membersihkannya, seperti setiap janji yang menguap begitu saja, meja itu tak lagi menemukan bentuknya yang paripurna. Pagi ini saat kau bangun dari tidur, lepas tujuh hari bekerja dari rumah, keinginan membersihkan meja itu muncul lagi.

Jordan Peterson, dalam hidupnya yang kebanjiran privilej dan membuatnya jadi bajingan, pernah berkata, "Sebelum kamu berpikir hendak mengubah dunia, lebih baik kamu periksa dan bersihkan kamarmu dulu."

Membersihkan kamar, menurut orang seperti Jordan Peterson, adalah tindakan yang jauh lebih revolusioner daripada turun ke jalan menggugat undang-undang cilaka Omnibus Law. Kau tak perlu jadi profesor di Universitas Toronto untuk mengerti bahwa perkara menggugat ketidakadilan tak ada kaitannya dengan kebersihan kamar. Meski begitu, alangkah lebih baik jika kamarmu bersih. Hal ini penting juga untuk menghindari hal-hal yang kurang enak seperti terpeleset celana dalam atau bungkus pecel lele.

Di meja itu kau bisa melihat lanksap ingatan yang mungkin terkubur lama. Sebuah buku berjudul “Pengantar Politik” yang tak pernah kau baca sejak lulus kuliah dan entah kenapa masih ada di sana. Di antara tumpukan kertas kau melihat “Lelaki Harimau”, novel yang tak pernah kau baca karena mengingatkanmu pada “Harimau-Harimau” karya Mochtar Lubis. Cara kerja ingatan memang mengerikan. Dari satu meja yang bertumpuk itu kepalamu bisa berpergian ke banyak tempat tanpa perlu berpindah. Maka, untuk menghindari hal-hal lain kembali sebagai kenangan, kamu membereskan meja itu serapi mungkin dan membuang segala hal yang tak perlu.

Setelah meja bersih, lantai tak lagi dipenuhi pakaian dan sisa makanan. Kau memutuskan untuk ke kamar mandi. Kau lupa kapan terakhir kali mandi. Selama ini kau mandi hanya untuk mengusir kantuk, sekadar membilas badan, mencuci rambut, dan bergegas mengeringkan diri. Di kamar mandi kau menemukan beberapa botol sabun yang tak pernah dibuka. Kau suka wangi sabun itu, tapi karena terlalu sering bergegas, kau lupa caranya menikmati hidup. Menghidu wangi mawar, susu, dan krim penghalus kulit.

Setelah melakukan semua kegiatan itu, kau tertegun, membayangkan segala kemungkinan yang bisa kau lakukan di ruangan itu. Barangkali di masa isolasi seperti sekarang kau bisa menyigi tiap sudut kamarmu. Mencari benda-benda yang dulu kau miliki lantas dilupakan karena kesibukan. Buku yang kau inginkan tanpa sadar sebenarnya sudah kau miliki, tertumpuk di antara baju kotor. Atau konsol gim yang tak pernah kau mainkan sejak kau beli dua tahun lalu.

Hei, bukankah itu album Sheila on 7 pertama yang membuatmu ingat seluruh masa sekolah dulu? Atau, bukankah itu album Limp Bizkit yang membuatmu merasa hip hop dan metal seharusnya menjadi genre utama dalam musik? Atau, bukankah itu perangkat audio books tentang Moby Dick yang Sudah lama kau ingin dengarkan? Ini waktu yang tepat. Kau punya banyak waktu untuk mendengarkan lagu yang kau suka, membaca buku yang kau inginkan, memainkan gim yang tak kau selesaikan.

Jika kau sudah benar-benar bosan. Mungkin ini waktu yang tepat untuk menelpon orang tua di rumah. Menanyakan kabar mereka, mendengarkan cerita tentang keponakanmu, atau belajar mengerti keadaan mereka. Isolasi adalah waktu yang tepat untuk menghubungi kembali orang-orang yang kau sayang, mereka yang kau lupakan karena pekerjaan, mereka yang kau hindari karena rasa marah. Mungkin isolasi waktu yang tepat untuk menyelesaikan hal-hal yang dulu selalu kau lupakan; kau hindari.


Sabda-Armandio-Novel
Menyusun Dunia Pasca-COVID-19 dengan Fiksi

Oleh: Sabda Armandio

Pada 1985, Donna Harraway menerbitkan sebuah esai berjudul “Cyborg Manifesto” di Socialist Review. Di dalam esai itu, Donna Harraway berkata bahwa perbedaan antara fiksi ilmiah dan kenyataan hanyalah ilusi optik. Saya pikir itu bukan cuma berlaku pada fiksi ilmiah, melainkan fiksi secara umum.


Drakula adalah seorang count (adipati), yang hidup dengan mengisap darah orang biasa. Kita tahu, di kehidupan nyata aristrokrat, keluarga raja, tuan tanah, dan orang-orang kaya dapat hidup makmur dengan menjadi parasit yang dengan sadar dan penuh penghayatan mengonsumsi sari-sari kehidupan kelas pekerja. Membayangkan kesadaran antagonis dari tokoh yang memanfaatkan relasi kuasa seperti itu semudah membalik telapak tanganmu, dan mengubahnya menjadi karakter fiktif semudah membalik lagi telapak tanganmu. Jadi, bukan hal yang terlalu menakjubkan jika dongeng tentang vampir, atau makhluk yang serupa vampir, muncul di tengah pemukiman dan menyebar dari mulut ke mulut. Bahkan Karl Marx menggunakan istilah vampirisme untuk mendeskripsikan sifat alamiah kapital dalam Das Kapital.

Begitu pula dengan Monster ciptaan Frankenstein dalam novel Mary Shelley, makhluk rekaan paling mengagumkan dalam sejarah penciptaan karakter fiksi. Seperti Drakula, Monster Frankenstein melebur dalam kultur populer dengan sangat cair. Kau bisa menemukannya mulai dari kartun, komik, hingga video game. Sebagian kreator hanya meminjam cangkang monster-aneh-berkepala-baut dengan pertimbangan bisnis. Sebagian lagi meminjam gagasan utamanya, dan meleburnya ke dalam tokoh yang sama sekali baru. Untuk yang terakhir kita bisa melihatnya pada karakter Project 2501, tokoh utama dalam cerita Ghost in the Shell karya Masamune Shirow. Sekalipun Shirow berkata bahwa judulnya merupakan homage kepada Arthur Koestler, pembaca dapat dengan mudah menemukan kesamaan antara Monster Frankenstein dan Project 2501: bukan manusia, bukan benda mati, tetapi memiliki kesadaran.

Keduanya merupakan personifikasi harafiah dari mereka yang tidak mendapat tempat dalam kategori sosial yang disepakati oleh mayoritas hari ini. Mereka yang kau anggap alien.

Ada potongan adegan favorit saya yang bisa menjadi contoh dari apa yang saya tulis di atas. Yaitu saat Project 2501 berkata kepada Letkol Daisuke Aramaki dan Nakamura bahwa sebagai makhluk otonom ia ingin menuntut hak suaka. Tentu saja ditolak, dengan alasan ‘Kau cuma benda yang bisa memprogram diri sendiri’ dan ‘Kau cuma A.I.’ Project 2501, seakan bisa menebak tanggapan yang akan ia terima, menjawab dengan jitu: “Aku bukan A.I. Nama sandiku Project 2501. Aku makhluk hidup yang lahir dalam lautan informasi.”

Kesadaran yang lahir dari akumulasi informasi memang bukanlah ide baru dalam fiksi ilmiah. China Miéville, aktivis sosialis dan penulis weird fiction, memakai ide yang sama dalam novel Perdido Street Station. Membicarakan hal ini secara teknis—bagaimana ia mungkin saja terjadi, dan kalau mungkin terjadi bagaimana caranya—jelas bukan bidang saya. Namun, yang mau saya tekankan melalui novel Dracula dan Frankenstein adalah bagaimana fiksi yang baik bisa dengan mudah dipindahkan dari medium cerita rekaan ke dunia nyata—tanpa sihir, tanpa monster, tanpa alien.

Novel Dracula dipublikasikan pada 1897, tetapi ketika kau membaca Dracula kau tidak hanya sedang berhadapan dengan monster haus darah. Kau sedang membaca cerita yang semua orang, melintasi kelas dan gender, mengerti bahwa orang kaya memang parasit. Frankenstein diterbitkan pada 1818, tetapi ketika kau membaca Frankenstein kau tidak sedang berhadapan dengan monsternya. Kau sedang berhadapan dengan kenyataan bahwa sampai hari ini, mereka yang tidak diakui dalam kategori sosial: LGBTQ, masyarakat adat, dan kelompok minoritas yang selalu dipaksa minggir benar-benar ada dan dizalimi secara sistemik—dan malah dijadikan musuh bersama oleh kelompok dominan.

Hal yang saya tekankan adalah bagaimana sebuah fiksi bisa bekerja dengan sangat baik, sehingga tak peduli sekarang—atau lima puluh tahun lagi!—saat kau membicarakan isu seperti kapitalisme dan kelompok terjajah, kau bisa merujuk fiksi seolah ia benar-benar terjadi. Saya nggak ingin mengajak ribut soal anarkisme atau marxisme, dan kalau kau libertarian yang yakin laissez-faire dan tanpa-negara adalah kombinasi jitu, sila tutup halaman ini dan pikirkan sejenak kontradiksi dalam keyakinan tersebut.

Saya ingin mengajak anda, pembaca yang baik hati, merancang ide cerita fiksi spekulatif. Kita akan berjalan-jalan, berbagi ide, dan mungkin kalau tertarik kau bisa menulisnya. Pasang sabuk pengamanmu, tegakkan sandaran kursi, dan…

Fiksi ilmiah, atau cerita-cerita spekulatif, punya banyak syarat mutlak. Salah satunya, dan yang paling penting, adalah memercayai bahwa dunia dapat berubah. Bahwa materi yang ada saat ini dapat dibentuk dan diproyeksikan, bukan setelah materi itu tidak ada. Itulah kuncinya: di sini, dan saat ini.

Gagasan itu muncul dan berkembang selama renaisans, yang didorong oleh kejatuhan Konstantinopel, keadaan sosial yang begitu cair pasca Wabah Hitam, yang menjadi arena empuk buat perubahan geopolitik. Ide tentang perubahan ini muncul dalam ilmu pengetahuan baru, agama-agama baru, hingga Revolusi Industri. Selain itu, ide ini juga menyusup ke dalam literatur dan politik praktis, yang akhirnya membentuk filsafat politik seperti Marxisme dan Anarkisme.

Filsafat politik yang saya sebutkan di atas memberi segudang gagasan brilian bagi fiksi ilmiah. Dari Ursula K. Le Guin, China Miéville, hingga kebangkitan genre ini di RRC. Lupakan sejenak keinginanmu untuk menjadi Pram atau Wiji Thukul, sebab hari ini kau lebih beruntung. Dengan ragam akses informasi dan ilmu pengetahuan, kau bisa membuat cerita dari dan untuk generasimu. Di dalam cerita fiksi ilmiah yang mengedepankan kemanusiaan, kau bisa dengan mudah menemukan tiga kategori berikut: infrastruktur dan teknologi, hubungan sosial antarmanusia, dan harapan. Yang terakhir saya sebutkan adalah nilai penting dalam tradisi ini. Berbeda dengan sikap optimis yang mengindikasikan overdosis percaya diri, harapan memberi peluang untuk mencoba jalan lain.

Ketiga kategori yang saya sebutkan sesungguhnya saling berkelindan: infrastruktur dan teknologi membentuk validasi material dalam tatanan sosial, yang segala perkembangannya berpotensi mengubah hubungan antarmanusia secara besar-besaran. Celakanya, teknologi dan infrastruktur cocok bagi dua kutub yang berseberangan. Ia bisa cocok di dalam sistem yang menyebabkan konsumsi gila-gilaan sehingga membuat apa yang tersedia di bumi tidak pernah cukup. Ia juga bisa cocok dalam sistem yang sebaliknya.

Untuk menjawab persoalan itu, kau bisa membaca sejarah, misal, yang paling dekat: Sars. Menurut laporan Times penelitian vaksin Sars tak pernah mengalami progres karena wabah telah berakhir dan peneliti mengubah prioritas mereka. Ucapan peneliti itu sepatutnya membuatmu bertanya-tanya: Apakah ketika wabah berakhir artinya tak akan ada wabah lagi? Atau penelitian dihentikan karena investor tak ingin mengambil risiko membakar uang terlalu besar untuk sesuatu yang tidak menghasilkan keuntungan?

Satu atau dua bulan lalu, kita masih terkejut dengan pembaruan teknologi—ponsel yang semakin canggih, robot yang bisa menggaruk punggungmu, bahkan aplikasi yang dapat mencegahmu menyentuh wajah saat pandemi COVID-19—dan bagi kau yang suka memarkir diri jauh, melihat dunia melalui mata ilahi, kau menyadari betapa cepat perubahan dunia. Namun, di tengah pandemi, kau memahami pembaruan teknologi dan kecepatan perubahan menyimpan sifat-sifat kontradiktif yang, sialnya, fatal.

Pertumbuhan luar biasa dalam urusan kebebasan pasar dan individu, misalnya, memicu beberapa orang menyetok dan menjual masker dengan harga selangit. Tanpa perlu repot-repot dibentuk, jenis masyarakat yang kau jalani mengizinkan itu terjadi. Atau, kemajuan teknologi komunikasi membuat atasanmu atau klienmu boleh meneleponmu di waktu istirahat untuk meminta revisi. Atau, yang dalam kondisi masyarakat paling tak termaafkan , orang-orang dipaksa bekerja dalam kondisi kelaparan untuk tetap bekerja dan bertahan hidup. Pada kondisi pandemi seperti ini, batas antara nilai yang dieksploitasi, benda-benda yang diprivatisasi, dan celah-celah mana yang rentan jadi terlihat.

Hal-hal yang kusebutkan di atas: kekaguman manusia atas pencapaian mereka, ketertarikan mereka pada kemajuan dan perubahan, hingga masalah-masalah yang muncul hari ini, dengan pisau bedah yang tepat, bisa membantumu bikin peta untuk menulis jurnal ilmiah atau, ya, fiksi spekulatif. Sebab, menukil Oscar Wilde, peta yang tak punya tujuan tak layak untuk dijadikan panduan.

Lalu, kau bisa memikirkan lagi hari ini, apakah sistem dan infrastruktur kesehatan yang ada saat ini sudah sanggup menangani COVID-19? Atau penelitian vaksin akan berhenti saat wabah selesai dan peneliti menemukan hal lain? Mengapa industri farmasi dan korporasi obat-obatan malah seperti sedang lomba makan kerupuk? Apakah karena mereka didorong untuk juga memikirkan keuntungan? Dan, kalau iya, apa dampaknya bagi kita? Dari pertanyaan-pertanyaan itu, apakah kau sudah memikirkan ide cerita yang seru?

Hari ini, selain berhadapan dengan COVID-19, kita juga berada satu ruangan dengan potensi kepunahan paling menakutkan: pemanasan global. Bahkan orang keras kepala seperti Andreas Malm, di dalam buku Fossil Capital: The Rise of Steam-Power and the Roots of Global Warming, menyadari bahwa berharap revolusi terjadi sebelum melawan perubahan iklim adalah pekerjaan sia-sia.

Jadi, setelah COVID-19 berakhir dan kau sanggup melewatinya. Kau sudah melihat korban berjatuhan, dan kau tahu betapa mengerikannya sistem yang lebih mengedepankan keuntungan ketimbang kemanusiaan. Apakah kau masih percaya bahwa sistem yang demikian dapat menyelesaikan masalah pemanasan global? Atau, kau tiba-tiba mencurigai segala sesuatu yang saat ini diklaim sudah mapan.

Kau merancang cerita spekulatif dengan keyakinan bahwa setelah pandemi ini, kau akan menemukan cara yang tepat untuk menangani ragam penyakit yang akan datang lagi. Di dalam ceritamu, kau memastikan bahwa kau siap. Setelah itu, kau bisa membayangkan percepatan transisi dari energi fosil menuju energi terbarukan.

Salah satu energi ramah lingkungan terbesar yang dapat kau lihat dan rasakan, katakanlah matahari saat ini menjadi objek menggiurkan bagi penasihat keuangan neolib hingga komunis. Ia bukan hanya dapat menguntungkan pengusaha, tetapi juga membuka kemungkinan-kemungkinan utopis.

Karena kau berharap masa depan yang lebih dapat menopang kehidupan, kau bisa melenyapkan kapitalisme dalam skenario ini dan fokus pada pemetaan sikap dan perilaku tokoh-tokoh di dalam ceritamu terhadap sumber daya. Pandemi COVID-19 mengajarkanmu bahwa pembebasan kolektif adalah satu-satunya cara untuk mencegah kepunahan dini. Selain itu, mungkin saja pergeseran ke energi terbarukan tidak sesuai dengan sistem yang mengedepankan laba dan pertumbuhan.

Selanjutnya, kau bisa membayangkan tentang pembebasan kolektif. Kesadaran kelas dan gender merupakan hasil cambukan yang mengerikan dari kapitalisme patriarkal, kolonialisme, diskriminasi, dan rasisme sepanjang sejarah.

Jika humanisme dan universalisme a la Eropa berpijak pada gagasan kesatuan, harmoni, dan kesetaraan. Namun, hingga hari ini kau merasa ia tak banyak mengubah apa-apa. Barangkali, kau perlu pendekatan lain.

Di dalam ide cerita spekulatif ini, kau izinkan pikiranmu untuk melupakan sejenak mimpi heteroseksual tentang keluarga ideal, atau dunia yang ideal dan setara buat orang kulit putih. Lalu, kau menggantinya dengan kesadaran kolektif tentang keadilan dan komunitas kecil di sekitarmu. Katakanlah, kau bisa membentuk model keluarga baru dengan bersandar pada perbedaan, pengakuan, dan penerimaan.

Dalam hal penerimaan, kau bisa mulai dengan mencari alternatif yang bertolak belakang dengan cara kelompok dominan memberi kategori sosial dan cara-cara masyarakat lama membebanimu dengan ekspektasi yang terlalu tinggi.

Saat didera pandemi, kau tidak bisa bertemu teman, berkumpul, bahkan berjabat tangan atau sekadar tos. Pengalaman khas ini mungkin bisa menjadi basis cerita spekulatifmu: Di dunia setelah pandemi, kategori sosial yang dibuat oleh kelas berkuasa—yang menciptakan kategori ‘alien’, ‘orang aneh’, atau ‘kafir’—tidak lagi relevan. Semua orang saling berkaitan dan berkontribusi untuk komunitas kecil mereka, yang akan berkaitan dengan komunitas kecil lain.

Dalam hal ini, saya akan meminjam dan mengedit sedikit kalimat Del Toro saat diwawancara Indiewire soal The Shape of Water: Barangkali, dunia setelah pandemi COVID-19 adalah saat yang tepat untuk berbicara seperti orang dewasa tentang sesuatu yang benar-benar kita khawatirkan. Kita bisa membicarakan masalah kepercayaan, tentang perbedaan dan keterasingan, seks dan cinta, dan akan ke mana kita melangkah. Hal-hal yang tak menjadi persoalan ketika kita kanak-kanak.

Ketika pikiranmu buntu dan ceritamu mandek, kau bisa mempelajari lagi bagaimana keterasingan dan kesepian bekerja dalam Frankenstein. Bagaimana masyarakat sebelumnya menjadikanmu korban dengan tipu-tipu aturan sosial yang tak pernah kau sepakati sebelumnya. Kau juga bisa merujuk The Dispossessed, atau karya-karya Le Guin lain, untuk mencari tahu bagaimana sistem ekonomi bisa berjalan dengan baik tanpa menjadikan pertumbuhan dan keuntungan sebagai pijakan. Kau juga bisa menonton ulang film-film Del Toro, Agnieszka Smoczyńska, Jennifer Phang, atau Ana Lily Amirpour dan mempelajari bagaimana cara mereka membuang elemen lama dan membentuknya menjadi cerita baru yang lebih relevan dengan persoalan hari ini.

Tentu, membicarakan harapan tak ubahnya mengunjungi perpustakaannya Borges. Kau tak pernah tahu di mana tepinya, sebab setiap tepi adalah bagian tengahnya. Sebelum jadi terlalu panjang dan menjemukan, kau bisa menutup ide cerita spekulatif ini dengan keyakinan bahwa segala bentuk harapan baik yang masih tersisa saat ini, yang kau siapkan sebagai hadiah untuk generasi mendatang, tak akan pernah terjadi selama nyawa manusia cuma dianggap angka.

.


 

Ikut patungan zine dengan GoPay:

Klik tombol di bawah
Simpan barcode ke galeri ponsel kamu
Buka aplikasi GoJek
Klik tombol 'PAY'
Klik ikon 'UPLOAD IMAGE' di sebelah kanan
Scan barcode

 

Ikut patungan dengan Jenius (BTPN)

Atau, baca gratis. Tinggal klik close